Vollständiger Abstract
Worum geht es in dieser Arbeit?
Digital transformation has become a critical strategic agenda across industrial security services to resolve recurring operational inefficiencies and visibility limitations. However, technology-based security solutions face persistent customer acceptance barriers within business-to-business emerging markets. This quantitative study aims to formulate an integrated marketing strategy framework for digital security services and identify priority initiatives supporting technology adoption. Data were gathered through structured questionnaires administered to 19 enterprise security decision-makers across industrial sectors in the Greater Jakarta region. Quantitative assessments utilized multi-criteria strategic evaluation models, including internal-external factor matrices and strategic priority matrices. The empirical findings reveal that data-based performance measurement difficulties and reporting delays represent the most critical customer pain points. Furthermore, quantitative priority testing established drone patrol system development as the paramount strategic initiative. The investigation concludes that implementing the networking, interaction, common interest, and experience framework with advanced artificial intelligence and internet-of-things ecosystems optimizes market penetration, strengthens corporate partnerships, and establishes sustainable competitive advantages in emerging markets. ABSTRAK Transformasi digital telah menjadi agenda strategis yang krusial di seluruh layanan keamanan industri untuk mengatasi inefisiensi operasional dan keterbatasan visibilitas yang berulang. Namun, solusi keamanan berbasis teknologi menghadapi hambatan penerimaan pelanggan yang persisten di pasar berkembang business-to-business (B2B). Studi kuantitatif ini bertujuan merumuskan kerangka strategi pemasaran terintegrasi untuk layanan keamanan digital serta mengidentifikasi inisiatif prioritas yang mendukung adopsi teknologi. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang dibagikan kepada 19 pengambil keputusan keamanan perusahaan di berbagai sektor industri di wilayah Jabodetabek (Greater Jakarta). Penilaian kuantitatif menggunakan model evaluasi strategis multikriteria, termasuk matriks faktor internal-eksternal (internal-external factor matrices) dan matriks prioritas strategis (strategic priority matrices). Temuan empiris mengungkapkan bahwa kesulitan pengukuran kinerja berbasis data dan keterlambatan pelaporan merupakan titik masalah pelanggan (pain points) yang paling kritis. Selain itu, pengujian prioritas kuantitatif menetapkan pengembangan sistem patroli drone (drone patrol system) sebagai inisiatif strategis utama. Investigasi ini menyimpulkan bahwa penerapan kerangka kerja networking, interaction, common interest, and experience (NICE) dengan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan internet of things tingkat lanjut mampu mengoptimalkan penetrasi pasar, memperkuat kemitraan korporasi, serta membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di pasar berkembang (emerging markets).
Bibliografischer Nachweis
Publikationsdaten
- Autor:innen
- Heru Hariyanto, Rhian Indradewa, Unggul Kustiawan, Ketut Sunaryanto
- Quelle
- ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
- Publikation
- 2026-01-01
- Band / Ausgabe
- Nicht angegeben
- Seiten
- Nicht angegeben
- ISSN / ISBN
- 2807-1808, 2807-2294
- Zitationen
- 0 laut Crossref
- Referenzen
- 0 hinterlegt
Zitieren
Zitierfähiger Nachweis
Heru Hariyanto, Rhian Indradewa, Unggul Kustiawan, Ketut Sunaryanto (2026). DIGITAL TRANSFORMATION MARKETING STRATEGY FOR SECURITY SERVICES: A NICE MARKETING MIX APPROACH FOR AI AND IOT ADOPTION IN EMERGING MARKETS. ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik. https://doi.org/10.51878/academia.v6i4.15279
Kontext
Themen, Förderung und Nutzung
Lizenzhinweise: Lizenz 1